Kamis, 13 Juni 2013

Interpretasi Well Log (Bagian 1) - BHT Log (Bottom Hole Temperature Log)

Bukan mustahil kalau nggak ada teknologi logging dalam borehole, eksplorasi minyak dan gas tidak akan berkembang pesat seperti saat ini. Oke, dalam postingan kali ini saya ingin sedikit menuliskan kembali apa yang saya baca dari buku Pak Rider tentang Interpretasi Well Log, khususnya dalam bahasan geologi reservoir dan petrofisika. 

Awalan : 
Well log itu apa ? 
Secara mudah, well log itu adalah pengukuran / perekaman parameter-parameter geofisika pada suatu borehole (sumur pemboran) secara kontinyu sebagai fungsi kedalaman. Kadang orang teknis dalam dunia perminyakan menyebut continuous depth-related record sebagai wireline geophysical well logs
LWD atau kependekan dari Logging While Drilling adalah proses perekaman data log sumur bersamaan dengan proses pengeboran. Peralatan LWD terbagi menjadi 3 bagian : downhole logging sensors, data transmission systems dan surface interface. Logging sensor biasanya diletakkan tepat dibelakang drilling bit dan akan aktif saat drilling dilakukan. Kemudian sistem transmisi akan mengirimkan sinyal yang secara kontinyu di konversikan menjadi bentuk data digital dan ditransmisi permukaan bersamaan dengan drilling mud dan diterima oleh receiver di permukaan. Proses logging dilakukan sesaat setelah drilling, waktu perekamannya bervariasi, kadang sebentar (beberapa menit saja) kadang bisa sampai hitungan jam, bergantung pada drilling rate dan jarak antara drill bit dan downhole sensor. 

 Gambar 1 : Ini adalah bapak-bapak teknisi yang sedang melakukan LWD 
(Courtesy of : www.bakerhuges.com)



Secara umum, Jenis logging terbagi menjadi 4 macam :
1. Temperature Log
2. Induction Log
3. Radioactivity Log
4. Mechanical Log

Nah, yang saya akan bahas kali ini adalah tentang BHT (Bottom Hole Temperature)

BHT - Bottom Hole Temperature

Apa sih BHT itu ?
Secara harfiah, Bottom Hole Temperatur artinya adalah temperatur dasar lubang (lubang bor dalam hal ini). BHT adalah proses perekaman nilai temperatur dari formasi-formasi yang dilewati saat proses pengeboran. Saat proses perekaman nilai temperatur, nilai yang didapat bukanlah nilai asli dari temperatur formasi tersebut, perlu adanya koreksi (nanti dibahas dibawah ya :D) , Sebelumnya mari kita mengenal lebih dekat tentang Gradien geotermal. 
Jadi, dalam dunia kebumian kita pasti mengenal adanya Gradien Geothermal. Gradien geotermal itu sendiri adalah kenaikan suhu sebagai fungsi kedalaman, nilainya akan berbeda diseluruh belahan bumi. Lha, ini nanti yang mempengaruhi adanya initial temperature dari suatu formasi, Secara alamiah, batuan yang berada dibawah sedimen yang cukup tebal, akan memiliki temperatur yang cukup tinggi dibandingkan batuan yang berada di bawah sedimen yang tipis.
Gambar 2 : Gradien geotermal dalam interior bumi 
(courtesy of : http://www.mpoweruk.com)

Secara sederhana, Gradien geotermal dirumuskan sebagai (Rider, 2008)  :  

dimana : T surface = adalah rata-rata suhu di permukaan dimana untuk iklim tertentu nilainya akan berbeda. Iklim tropis (25 derajat celcius), iklim subtropis/temperate zones (15 derajat celcius), permafrost zones (-5 derajat celcius) dan di zona dingin (5 derajat celcius). Gradien geotermal juga dipengaruhi oleh nilai konduktifitas termal dari formasinya. sehingga, saat nilai konduktifitas termal tinggi, otomatis aliran panas akan cepat dihantarkan dan gradien geotermal di formasi tersebut akan bernilai tinggi. Berikut adalah nilai kisaran konduktifitas termal dari beberapa batuan (Serra,1979 dan Gerhart, 1983)
Tabel 1 : Tabel Konduktifitas termal beberapa batuan (Serra, 1979 dan Gerhart, 1983)

Tabel 2 : Gradien geotermal di beberapa cekungan sedimen (Rider, 2008)


Kegunaan BHT Log ini apa ?
Beberapa kegunaan BHT log diantaranya adalah (Rider, 2008) :

  • Menganalisis tingkat kematangan material organik pembentuk hidrokarbon, menurut Landes (1967) ada kaitan erat antara gradien termal, kedalaman dan tipe hidrokarbon yang dihasilkan. Sedangkan menurut Waples (1980) derajat kematangan hidrokarbon ditentukan oleh temperatur, tekanan dan waktu. Temperatur paling berpengaruh penting dalam pematangan, tapi waktu adalah faktor lain yang juga vital. Selain suhu,tekanan dan kedalaman faktor burial depth juga diperhitungkan.
  • Identifikasi area Overpressure. 
    • Jika borehole masuk ke overpressure shale, biasanya akan ditemui anomali kenaikan temperatur yang cukup tajam. Kok bisa ? karena adanya air formasi yang masuk dari overpressure shale ke borehole sehingga perbedaan suhu yang tercatat akan turun (lebih dingin) dari area disekitarnya. 
    • Jika ada aliran fluida (gas) yang masuk ke borehole, biasanya akan ditunjukkan oleh munculnya anomali temperatur yang juga menurun drastis, kenapa ? sama seperti diatas mekanismenya, hehe.
    • Selain itu, dapat juga digunakan sebagai identifikasi fraktur akibat tekanan air (hydraulic fractures) yang biasanya ditunjukkan oleh anomali penurunan temperatur setelah frakturing. Biasanya sih ini dianalisa setelah tahap perforasi, buat ngeliat efek dari perforasi itu. 
Gambar 3 : Grafik perubahan suhu pada log BHT akibat proses fracturing
Anomali dingin (penurunan suhu) nampak setelah fracturing akibat 
adanya borehole mud yang masuk ke rekahan
(Hill, 1990 dan Dobkin 1981)

  • Environmental correction, apa itu ? maksudnya adalah koreksi temperatur dibutuhkan saat sumur bor akan di logging dengan tipe induksi (induced logging) seperti log resistivitas. Kondisi harus pada keadaan standar yaitu 24 derajat celcius atau 75 derajat fahrenheit. 

Sekian tentang BHT Log, nanti disambung lagi tentang Log-log lainnya.
*cmiiw*
Sumber : Buku Interpretasi Geologi dari Well Log nya Pak Rider.




0 komentar:

Posting Komentar